Urban Governance, Spatial Reordering, and City Image Formation: The Role of Local Bureaucracy in the Royal Baroe Pasar Lama Area of Serang, Banten
Abstract
Artikel ini mengkaji peran aparatur sipil negara daerah dalam penataan ruang dan pembentukan citra kota di kawasan Royal Baroe–Pasar Lama, Kota Serang, Banten. Kajian ini berangkat dari pandangan bahwa ruang kota bukan sekadar setting fisik, melainkan arena tata kelola tempat koordinasi birokrasi, kebijakan simbolik, dan praktik pelayanan publik membentuk makna kota. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, artikel ini menganalisis bagaimana aktor birokrasi daerah menerjemahkan arahan politik ke dalam tindakan operasional, termasuk relokasi pedagang, penataan koridor kawasan, aktivasi event, pengiriman sinyal kepada investor, dan penguatan kelembagaan. Penelitian melibatkan 12 informan yang terdiri atas pejabat pemerintah daerah, pedagang, aktor komunitas, dan pemangku kepentingan pendukung, serta dilengkapi dokumentasi dari rilis pemerintah dan laporan terkait. Berdasarkan temuan, penataan ruang di Royal Baroe menghasilkan tiga keluaran yang saling terkait. Pertama, birokrasi berperan strategis sebagai koordinator, regulator, dan produsen citra melalui tindakan lintas sektor. Kedua, citra kota membaik melalui peningkatan visual, penyelenggaraan event publik, serta terciptanya suasana ruang yang lebih aman dan menarik. Ketiga, keberlanjutan kawasan yang ditransformasi sangat bergantung pada tata kelola pascaproyek, terutama pengelolaan kelembagaan, pembinaan pedagang, pemeliharaan fasilitas, dan pengawasan terpadu. Dalam konteks ini, artikel berkontribusi pada studi politik dan pemerintahan dengan menunjukkan bahwa birokrasi lokal dapat berfungsi tidak hanya sebagai pelaksana kebijakan, tetapi juga sebagai agen aktif dalam membangun legitimasi perkotaan, kepercayaan publik, dan optimisme ekonomi berbasis tempat. Dengan demikian, transformasi kota memerlukan desain kelembagaan yang berkelanjutan melampaui penataan fisik yang bersifat seremonial.